Muda Senada - Selama bertahun-tahun, Indonesia hidup dalam paradoks. Negara yang sering menyebut diri sebagai bangsa agraris justru tidak mampu mencukupi kebutuhan berasnya sendiri.
Setiap tahun, jutaan ton beras masuk dari luar negeri untuk menutup kekurangan produksi dalam negeri. Ketergantungan itu berlangsung lama, sampai-sampai publik merasa impor adalah sesuatu yang “normal.”
Namun memasuki 2025, situasinya berubah secara drastis. Pemerintah mengumumkan bahwa Indonesia akhirnya mencapai swasembada beras.
Tidak ada lagi impor beras konsumsi hingga akhir tahun. Keputusan ini bukan sekadar pencapaian administratif. Ia adalah perubahan arah besar yang mengguncang pasar global dan memberi sinyal kuat bahwa Indonesia memilih jalur kemandirian pangan.
Dampak Keputusan Berhenti Impor dan Fakta Kegelisahan Global
Untuk memahami besarnya perubahan ini, kita perlu mundur sedikit ke belakang. Pada tahun 2023, Indonesia masih mengimpor sekitar 3,06 juta ton beras.
Jumlah ini menunjukkan bahwa produksi nasional belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan penduduk. Padahal, Indonesia memiliki lahan luas, pengalaman panjang dalam pertanian, dan jumlah petani yang besar.
Namun berbagai faktor seperti inefisiensi distribusi, kebijakan yang tidak sinkron, dan lemahnya dukungan terhadap petani membuat produksi stagnan.
Kondisi itu menjadikan Indonesia pasar yang sangat menguntungkan bagi negara-negara eksportir seperti Thailand dan Vietnam. Mereka menempatkan Indonesia sebagai pembeli yang selalu ada. Karena permintaan stabil, pendapatan petani dan eksportir mereka ikut terjaga.
Ketika Indonesia mengumumkan penghentian impor, situasi langsung berubah. Harga beras dunia yang sebelumnya berada di kisaran 650 dolar AS per ton turun hingga mendekati 300 dolar AS. Penurunan ini bukan hanya statistik, tetapi cerminan betapa besar pengaruh Indonesia terhadap pasar global.
Thailand termasuk yang paling merasakan dampaknya. Selama bertahun-tahun, sebagian ekspor mereka bergantung pada Indonesia. Ketika permintaan itu hilang, petani mereka mulai mengalami kesulitan menjual hasil panen. Di beberapa wilayah, muncul laporan protes petani karena pasokan yang tidak terserap.
Situasi di Vietnam bahkan lebih sensitif. Indonesia menyerap sekitar seperempat produksi beras mereka, dan harga jualnya cenderung tinggi. Tidak heran jika pejabat mereka mulai mempertanyakan keberlanjutan swasembada Indonesia. Kekhawatiran itu mencerminkan betapa besarnya ketergantungan mereka terhadap pasar Indonesia.
Perubahan besar ini tidak terjadi begitu saja. Sektor pertanian mulai bergerak setelah dipimpin oleh figur yang memang punya keahlian teknis. Produksi meningkat, kualitas benih diperbaiki, tata kelola lahan diperhatikan, dan sebagian masalah distribusi diselesaikan secara lebih sistematis. Impor yang biasanya besar perlahan menurun. Dari 880 ribu ton di periode awal tahun sebelumnya, angka itu merosot menjadi sekitar 90 ribu ton. Pada 2025, Indonesia akhirnya berani menutup pintu impor sepenuhnya.
Namun begitu, perubahan di lapangan masih diiringi tantangan internal. Kasus penyewaan ilegal lahan kementerian seluas 290 hektar menunjukkan bahwa pembenahan birokrasi masih jauh dari selesai.
Tindakan tegas terhadap pejabat yang terlibat adalah langkah penting untuk menjaga agar jalur produksi tidak terganggu oleh kepentingan pribadi. Karena tanpa tata kelola yang bersih, swasembada bisa runtuh kapan saja.
Pencapaian ini membuka peluang untuk memperkuat sektor pangan secara lebih luas. Ketika ketergantungan impor mulai berkurang, ruang bagi petani lokal semakin terbuka.
Selain itu, peluang ekspansi ke hilirisasi komoditas lain seperti pinang, kelapa, kopi, kakao, dan sawit semakin relevan. Ketahanan di satu komoditas bisa menjadi pintu masuk untuk memperkuat sektor lain.
Swasembada Beras dan Arah Baru yang Harus Dijaga
Swasembada beras memberikan napas baru bagi pembangunan pangan nasional. Ketika kebutuhan dasar dapat dipenuhi dari produksi lokal, ketahanan ekonomi negara menjadi lebih stabil.
Petani mendapat ruang lebih luas, distribusi lebih teratur, dan harga lebih terkendali. Namun keberhasilan ini belum berarti semuanya aman. Ada dinamika yang harus diantisipasi. Para pelaku yang selama ini menikmati keuntungan dari ketergantungan impor di sisi lain, tentu tidak nyaman dengan perubahan ini.
Hilangnya peluang mendapatkan keuntungan besar dapat mendorong munculnya gangguan di rantai pasok. Gangguan harga, tekanan distribusi, atau narasi publik yang meragukan kualitas produksi lokal bisa menjadi bagian dari upaya menggoyang stabilitas yang sedang dibangun.
Swasembada beras juga memberi peluang untuk memperkuat hilirisasi. Selama ini banyak komoditas Indonesia keluar dalam bentuk mentah. Jika keberhasilan di sektor beras dijadikan model, pengolahan komoditas lain dapat memberikan nilai tambah yang jauh lebih tinggi bagi ekonomi nasional.
Tantangannya adalah menjaga konsistensi kebijakan di tengah perubahan politik dan kepentingan jangka pendek.
Dari perspektif generasi muda, pencapaian ini memberi ruang untuk optimisme. Ada rasa bangga melihat negara mengambil keputusan strategis yang efeknya nyata.
Namun rasa bangga itu tetap disertai kesadaran bahwa sistem pangan tidak berhenti pada satu pengumuman.
Keberhasilan harus dijaga dengan kebijakan yang stabil, pengawasan yang ketat, dan keberanian melawan pola lama yang sering merugikan petani.
Penutup
Swasembada beras pada 2025 menandai fase baru bagi Indonesia. Negara yang selama puluhan tahun mengandalkan impor kini berdiri di atas kemampuannya sendiri. Dampaknya terasa hingga pasar global dan memberi ruang lebih besar bagi petani lokal.
Namun capaian ini tetap membutuhkan pengawalan. Birokrasi harus dibenahi, mafia pangan harus dihadapi, dan kebijakan harus dijaga agar tidak mudah terpengaruh kepentingan jangka pendek.
Saya mendukung capaian ini karena ia menunjukkan bahwa Indonesia mampu memperbaiki diri ketika kebijakannya dijalankan dengan serius dan terarah. Namun dukungan itu datang bersama kesadaran bahwa perjalanan masih panjang.
Kemandirian pangan baru dimulai, dan konsistensilah yang akan menentukan apakah capaian ini bertahan atau kembali runtuh seperti masa lalu. Jika dijaga dengan baik, swasembada ini bisa menjadi pondasi kuat bagi ekonomi Indonesia ke depan.
--
Kredit: Youtube Bennix

0 Comments